My Pregnancy Journey
Menjadi seorang ibu adalah profesi tak berbayar yang tidak semua perempuan inginkan (child free), tapi dengan kesadaran penuh aku sangat menghendakinya, yap sebentar lagi diri ini akan menjadi seorang ibu [pikirku ketika sedang mengandung Gavin] pastinya tak mudah, tapi insyaAllah bisa.
Tanggal 27 Juni 2024 I’m officially getting married. Unexpected banget menikah di tanah rantau, sekaligus bernasib LDR yang ketemunya hanya seminggu sekali dan selanjutnya harus menabung rindu lagi dan lagi, tapi ya sudahlah manusia hanya menjalani takdir yang sudah ditetapkan, selebihnya hanya doa yang menjadi usaha kami waktu itu.
After getting married, “gimana, sudah isi?” adalah pertanyaan yang sering kami jumpai. Jujur, aku [amat sangat] santai perihal kehamilan, disamping ingin menikmati newlyweds bersama suami, pun LDR juga menjadi salah satu alasan kami untuk sedikit [menunda] alias sedikasihnya aja (sebagai bentuk kepasrahan kepada Tuhan) apalagi waktu itu Suami juga sering pergi ke luar Kota bahkan Pulau.
Minggu demi minggu, bulan berganti bulan, hingga 4 bulan setelah pernikahan, kami melewati masa dimana Minggu adalah hari yang sangat mahal, kami habiskan untuk quality time, masak enak, keliling Kota naik motor berdua, ngemall, atau sekadar bermalas-malasan di kos berukuran 3x2 itu sudah sangat menyenangkan hehe
Di November 2024 ternyata bulan yang menjadi saksi garis dua pada test pack. Jujur, waktu itu aku bingung, harus bahagia atau sebaliknya, lagi dan lagi LDR lah yang menjadi alasan semua kegalauan itu. Tapi wait, selain LDR aku juga sempat takut, apakah semua garis dua memberikan tanda kehamilan? Haha sejatinya hanya ingin memastikan. Suami yang sedang ada di seberang pulau tampaknya [sangat] bahagia mendengar kabar ini dan kami menetapkan sementara untuk tidak bersuara ke siapapun termasuk keluarga.
Seminggu kemudian, untuk membenarkan sekali lagi, akhirnya aku memberanikan diri cek USG ke Dokter yang sedang praktik di Apotek, Dr Alfonsman namanya. Perihal HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) adalah pertanyaan pertama yang di tanyakan, setelahnya langsung cek USG, “Iya bu benar, ibu positif” adalah ucapan yang serta-merta mulutku langsung mengatakan “alhamdulillah”, sangat jelas, wajahku tidak bohong, aku senang dengan takdir ini, setelah kemarinnya mendapati kabar buruk di takdir yang lain, ternyata Tuhan langsung mengganti tangis menjadi manis, and yes I’m officially 5 weeks pregnant! Dan Folamil Genio (vitamin ibu hamil) lah yang kemudian langsung menemaniku setiap malam hihi
Lagi dan lagi, kebahagiaan pun diimbangi dengan overthinking perihal hamil muda ini, jauh dari suami, jauh dari orang tua, di kos tinggal sendiri, takut mual dan sebagainya. Tapi kegalauan tidak berlangsung lama, setelah menjalani kegiatan sehari-hari sebagai guru dan selebihnya memilih untuk tetap stay di kos, aku sangat bersyukur, hamil muda ini sangat tidak mengganggu fisik maupun psikisku; dijauhkan dari mual dan kawan-kawannya, orang-orang bilang hamil kebo (kehamilan tanpa gejala mual, muntah, pusing yang dialami ibu hamil). Kalau weekend? ya, sejak hamil muda aku sudah tidak berani naik motor jarak jauh apalagi jalan yang dilalui rusak, suamilah yang datang mengunjungi dengan selalu membawa seperangkat buah, snack dan kawan-kawannya haha, padahal waktu itu suami lagi sibuk-sibuknya dan sering banget ke luar pulau. Pernah banget kasih kejutan siangnya baru balik dari Semarang, sorenya mengunjungiku di Kabupaten sebelah, kurang lebih jaraknya sekitar 80 km dari Kota dan tiba di kos magrib, hehe makasih ya sayang..
Usia kehamilan sudah 12 minggu artinya sudah menginjak 3 bulan. Di bulan ketiga ini, kami sepakat ingin lihat kondisi janin. Tepat sekali dengan libur semester Ganjil, aku dijemput suami dan kami memutuskan untuk cek USG dengan dr. Nugraeni N. Masiku, Sp.OG., M.Ked.,Klin di RS Provita. Perasaan haru dan syukur bisa melihat kondisi adek dalam kandungan di layar monitor membuat kami saling memberikan ekspresi senang berulang kali. Kondisi janin sangat bagus dan sesuai dengan usia kehamilan, alhamdulillah.
Didekatkan dengan suami adalah doaku sejak menikah, manusia bisa apa selain berdoa dan meminta, dan inilah jalur langit yang sedang kami usahakan.
Akhir bulan Januari 2025 lagi dan lagi akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Tiba-tiba dengar rumor aku akan dipindah tugaskan ke sekolah yang lebih dekat dari rumah dan ternyata rumor itu diwujudkan dengan nota dinas per 1 Februari, masyaAllah terimakasih ya Allah, ini bagian dari rezekinya adek nggak sih hihi.
Februari, aku mulai naik motor lagi karena usia kandungan sudah memasuki trimester 2 (kandungan sudah kuat) pun sekarang sudah bisa pulang pergi dari rumah orang tua, meskipun jarak yang ditempuh cukup jauh tapi aku sangat menikmati perjalanan ini, selain jalannya aspal, tidak macet juga tidak berdebu.
Pertengahan Februari, rumah yang sedang kami usahakan sejak sebelum menikah dengan segenap dramanya alhasil sudah bisa ditempati yeay. Pagi, aku dan suami memilah barang yang akan dipindahkan, suami memilah barang yang di kos, sedang aku memilah barang di rumah orang tua, sorenya semua barang-barang diangkut ke rumah baru. Dan ya, semakin didekatkan dan sudah bisa pulang ke rumah yang sama, alhamdulillah.
Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan aku sangat menghargai masa kehamilan ini berdua dengan suami. Makan, masak dan menyetrika adalah kegiatan favorit ku waktu itu, sambil sesekali melakukan senam gym ball, dan jalan ringan menjelang matahari terbenam, semua yang kulakukan tak lain berharap bisa melahirkan normal, bismillah.
Maret, sudah memasuki bulan Ramadan. Alhamdulillah di hari pertama bisa ikut sahur dan lolos puasa seharian. Tipsnya adalah waktu sahur, makan dan ngemil nya dimaksimalkan alhasil ikut puasa pun kuat, walaupun menjelang subuh sempoyongan karena makan berlebihan haha jangan ditiru yaa. Di hari berikutnya pun aku melakukan tips yang sama, tapi percayalah, Ramadan kali ini banyak bolong nya juga hehe
Usia kehamilan sudah 5 bulan, lagi dan lagi kami antusias ingin melihat kondisi janin apalagi kalau sudah lihat perkembangan janin yang cukup signifikan. Menatap layar monitor yang sudah terlihat wajah adek, menciptakan ketidaksabaran ingin segera bertemu, kami pun masih menerka-nerka mirip siapa ya, haha masih belum terlihat jelas. Di usia ini pun jenis kelamin sudah terlihat, kami juga tidak berniat untuk membuat kejutan (gender reveal) justru kami ingin tau secepatnya. Paska dr. Yusri Bija, S.pOG,.M.Kes mengatakan “ada monasnya bu”, lagi dan lagi kami sumringah mendengarnya, wah sesuai dengan gender yang di inginkan it’s a baby boy!. Sebenarnya apapun gendernya yang penting sehat sempurna, tapi jika boleh meminta, anak pertama pengennya laki-laki, why? selain agar menjadi pelindung untuk adik-adiknya, anak sulung cenderung memiliki karakteristik kepemimpinan yang alami. Tapi apapun itu balik lagi yang penting sehat sempurna. Oya, disini dokter juga mengatakan bahwa ada lilitan di leher, tapi lilitan itu kemungkinan bisa lepas, nanti lihat lagi di next USG ya semoga lilitan sudah melepaskan dirinya, aamiin.
31 Maret, tahun ini lebaran bersama suami dan calon bayi di dalam perut, tentu aktivitas lebaran sedikit dibatasi, membuat menu bakso pun dibagi tugas dengan suami, aku meracik bumbu kuahnya sedang suami yang membentuk bulatan adonan dagingnya, pun mengunjungi saudara-saudara dari suami bertahap, padahal aku sudah percaya diri, ternyata aku tidak sekuat itu huhu. Baiklah, mari kita move on dari hiruk pikuk lebaran dan perdagingan.
Usia 7 bulan kami melakukan USG lagi, tanpa disadari ternyata kami cek USG setiap usia kehamilan ganjil, 1 bulan, 3 bulan, 5 bulan dan sekarang 7 bulan hihi. Kami cek USG ke dr Yusri Bija, S.pOG,.M.Kes lagi. Di usia ini kami menerima hasil USG bahwa air ketuban sudah cukup bagus, tulang kaki cukup panjang, dan wajah adek sudah terlihat cukup jelas. Disini pun kami lupa tidak menanyakan perihal lilitan, karena terlalu antusias dengan wajah adek wkwk.
Fase berikutnya adalah usia 7 bulan. Kalau orang Jawa biasanya ada tradisi 7 bulanan atau akrab disebut mitoni atau tingkeban. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan mendoakan bayi yang dikandung agar terlahir dengan normal, lancar dan dijauhkan dari berbagai kekurangan dan berbagai bahaya. Di usia 7 bulan ini seluruh struktur dan organ janin sudah mulai sempurna (siap lahir), mungkin ini kali ya salah satu alasan kenapa di usia 7 bulan harus didoakan lebih khusus lagi. Dan ya, tasyakuran 7 bulanan putra pertama kami berjalan dengan lancar, alhamdulillah.
Dari jauh-jauh hari, aku dan suami sepakat ingin melahirkan di RS Marthen Indey, selain pelayanannya cukup bagus, dekat dengan beberapa saudara yang juga menjadi pertimbangan kami. Jujur, kami masih awam perihal rujukan dll padahal kaka ipar dan beberapa teman suami bekerja di bidang kesehatan haha, karena dokter kandungan di RS Marthen Indey hanya 2, jadi kami memutuskan sebelum melahirkan akan melakukan USG terlebih dahulu ke salah satu dokter disana, DR. dr. David Randel Christanto, SpOG, Subsp.KFM.,M.Kes, namanya. Di akhir Mei, usia kehamilan sudah 8 bulan mendekati 9 bulan, kami pun melakukan USG, peralatannya sangat lengkap, sehingga semua dicek dengan detail, mulai dari jumlah cairan ketuban, lingkar kepala, lingkar perut, berat badan, panjang tulang, ukuran otak, aliran darah, letak plasenta dll, ternyata hasil USG kali ini menunjukkan bahwa perkembangan janin tidak sesuai dengan usia kehamilan, atau masih dikategorikan kurang, termasuk berat badan yang masih perlu ditingkatkan. Dokter menyarankan untuk makan lebih banyak lagi (sehari 5 kali dan harus nasi bukan camilan) dan resep beberapa jenis vitamin yang harus diminum untuk mengejar ketertinggalan perkembangan janin, jujur di sini aku mulai stress karena kebanyakan vitamin. Untuk mengejar berat badan adek, suami sering banget membelikan aku es krim dalam kemasan kotak, buah-buahan, makanan dan menuruti apapun yang aku mau waktu itu hehe makasih ya sayang, mari berjuang bersama.
Suntik pematangan paru juga sempat dilakukan. Suntik ini dilakukan untuk membantu mempercepat perkembangan paru-paru bayi karena berat badan janin masih sangat kurang dan bisa disebut prematur. Dan setelah melakukan beberapa kali USG di usia 8 sampai 9 bulan, ternyata lilitan di leher juga masih belum lepas, akhirnya melahirkan normal sudah tidak bisa dilakukan, jalan satu-satunya adalah operasi caesar. Awalnya rujukan operasi di RSUD Jayapura, karena berat badan janin masih 2,1 kg pun alat kesehatan disana lebih lengkap jika bayi lahir prematur, tapi aku khawatir karena operasi disana suami tidak bisa menemani, akhirnya aku usahakan untuk lebih banyak lagi makannya, apalagi makan es krim satu hari makan satu kotak kemasan besar, tentu itu sangat bisa haha.
Qodarullah, USG terakhir menunjukkan bahwa berat badan adek sedikit meningkat, sedang akunya meningkat drastis, sebelum hamil BB 40kg tembus menjadi 61kg, mantap gak tuh, betapa beratnya badan ini haha. Dan khirnya rujukan berhasil dipindah ke RS Marthen Indey, disini suami bisa masuk dan menemani saat operasi berlangsung, tak apa melahirkan dengan operasi, yang penting bisa ditemani aku sudah sangat bersyukur waktu itu. Dan ya, di surat rujukan menunjukkan bahwa tindakan operasi caesar akan dilaksanakan pada hari Jum'at, 12 Juli 2025 jam 17.00 WIT, can't wait to see you my lovely son!!!!!
and here he is, udah 2 bulan anaknya hehe..
Panjang kali lebar kali tinggi, udah ya ceritanya, see you in leisure timeee!!!!



.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)





Komentar
Posting Komentar